Jumat, 26 Juli 2013

Birth Of Certificate


CIVIL REGISTER
(INDONESIAN CITIZEN)
JAKARTA
EXCERPT OF
BIRTH CERTIFICATE
No.1100887/1992.-

From GENERAL  Register of Civil Registration for Indonesia Citizen about births pursuant to the State Gazatte in Jakarta, that in Jakarta on date fourth of February nineteen ninety two was born: MICHELIA CHAMPACA daughter of married couple : E.RASIDI and SITI CHADIDJAH

This expert conforms to the condition on this day
Jakarta, dated sixth of Marc
Nineteen ninety two,
Head of Civil Registration Office.



sulalstri  astuti
NIP.9665342546

Rabu, 01 Mei 2013

definision of special text translation

SPECIAL TEXT TRANSLATION DEFINITION Translation is the process in writing mengaliheja mengalihbahasa or one language to another without changing the message. Despite the change in shape (phrases, clauses, sentences and paragraphs). As written Nida and Taber (12:1974) while the meaning of particular text is text-information that allows documents containing words are more formal or official. Examples of specific texts such as ID cards, diplomas, KK and other important documents. After knowing the specific text translation definition above, it can be concluded that the specific text in the translation process is the process of translating a formal paper and filled with official words used in certain documents, such as ID cards, diplomas, KK, and other documents inaugurated.




nama: michelia champaca
kelas : 4Sa02
Npm: 14609579

certificate senior high school




DEPARTMENT OF NATIONAL EDUCATION
THE REPUBLIC OF INDONESIA
CERTIFICATE OF
SENIOR HIGH SCHOOL
School Year: 2008/2009



The undersigned, Headmaster of The Private Senior High School “SMA Negeri Sejahtera 1 Depok” certifies that:
Name                                                    : Michelia Champaca
place and date of birth                           : Jakarta, February 04th 1992
name of parent                                      : siti chadidjah
name of senior high school                     : SMA PB.soedirman cijantung
student registration number                    : 9917445674
participant number                                 : 03-032-674-7


 HAS GRADUATED

from the senior high school  based on  the results of the School and National Examinations and has fulfilled all criteria  pursuant to the applicable regulations.


jakarta, 16 Juni 2009
Headmaster,
[stamped & signed ]
Dra. yuyun, S.Pd




nama: michelia champaca
kelas ; 4sa02
npm : 14609579

Jumat, 05 April 2013

EAST JAKARTA PROVINCE DKI JAKARTA

Name                     : Michelia Champaca
City/ Date of birth : Jakarta, 04-02-1992
Sex                        : Female
Blood Type           : -
Address                : Jl. cibubur 2 bulak ringin 4 
                                number.58
Country/Village     : Cibubur
Sub-district           : Ciracas
Religion                 : Islam
Matrial status        : Unmarried
Occupation           : Entrepreneur
Nationality             : Indonesia
Expiry                    : 04-02-2016

Sabtu, 19 Januari 2013

interaksi budaya di lingkungan sekitar


1. PENDAHULUAN
   
     Suatu komunitas dalam ekologi sosial yang unsur-unsurnya terdiri dari tiga macam, yaitu: habitat, populasi dan kebutuhan, satu sama lain mempunyai hubungan timbal-balik yang saling berkaitan.
Dari ke tiga unsur tersebut masing-masing mempunyai karakteristik sendiri-sendiri, khususnya hubungan antara habitat dan populasi atau lingkungan dan komunitas (masyarakat) mempunyai hubungan timbal – balik yang saling mempengaruhi. Hubungan lingkungan dengan masyarakat/ manusia merupakan suatu jalinan transactional interdependency atau terjadi saling ketergantungan satu sama lain, artinya lingkungan mempengaruhi masyarakat/ manusia, demikian juga sebaliknya.

     Berdasarkan pada suatu teori yang menganggab bahwa lingkungan merupakan stimulus atau rangsangan terhadap proses kejiwaan manusia/ masyarakat, yang kemudian dapat menghasilkan tingkah laku tertentu. Dalam hal hubungannya dengan arsitektur, maka lingkungan dalam hal ini merupakan lingkungan buatan, yang termasuk di dalamya adalah lingkungan pemukiman.
     Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pengaruh hubungan timbal – balik antara lingkungan dengan manusianya/ masyarakat, maka diambil kasus Perumahan Fajar Indah di kota Surakarta, untuk di ketahui hubugan timbal-balik lingkugan buatan yang berupa lingkungan pemukiman dengan penghuninya, dilihat tingkah lakunya terhadap pola bentuk lingkungan, ruang terbuka, serta interaksi sosial yang terjadi.


2. MANUSIA, TINGKAH LAKU DAN LINGKUNGAN
Pengertian manusia secara mendalam telah dibahas oleh berbagai ilmu seperti: sosiologi, antropologi, psikologi dan psikologi sosial. Pembatasan pengertian antara disiplin-disiplin ilmu sosiologi, antropologi, psikologi, psikoogi sosial adalah sebagai berikut :

a) Sosiologi :
- Ilmu yang mempelajari struktur sosial.
- Pengetahuan tentang bentuk tata laku manusia dalam lingkungan.
b) Antropologi :
Ilmu yang mempelajari jenis-jenis sifat manusia dan keadaan fisik manusia, yang mendalami struktur sosial dan bentuk kebudayaan pada masyarakat primitive.
c) Psikologi :
lmu tentang tata laku dan pengalaman manusia.
d) Psikologi Sosial :
Pengetahuan tentang reaksi individual pada individual lainnya yang selanjutnya diperluas pada lingkungan.
Hampir semua kebijaksanaan dan tindakan manusia untuk menata kehidupan dan lingkungan hidup itu secara langsung atau tidak langsung berkait dengan unsur-unsur sosiologik, antropologik, psikologik dan psikologik sosial. Dapat dianggap bahwa arsitektur merupakan salah satu bentuk tindakan intervensi manusia terhadap lingkungan hidup, sehingga dengan demikian mempunyai relasi dengan ke empat disiplin sosial yang dimaksud tadi.
         Hubungan manusia dengan lingkugan sekitarnya merupakan suatu jalinan transactional interdependency atau terjadi saling ketergantungan satu sama lain, artinya manusia mempengaruhi lingkungannya, untuk selanjutnya lingkungan akan mempengaruhi manusia, demikian pula terjadi sebaliknya
         Lingkungan Merupakan Stimulus Terhadap Proses Kejiwaan Manusia

Perilaku adalah ungkapan kebutuhan internal di dalam diri manusia atau inner organismic demands, yang berada di lingkungan sosial dan fisik tertentu yang merupakan unsur eksternal.
Perilaku dibalik sikap, tanggapan dan tindakan manusia sangat ditentukan oleh persepsi dan kepribadiannya, sedangkan persepsi dan kepribadian ini dilatar belakangi oleh pengalamannya.
         Terdapat Lima Unsur Yang Saling Pengaruh Mempengaruhi dalam Proses Hubungan Antara Manusia dan Lingkungannya
Kelima bagian berkait satu sama lain, serta dapat bertindak sebagai faktor penyebab atau dapat pula merupakan sebuah akibat, umpamanya keprivacyan dan ke teritorialitasan adalah merupakan suatu akibat dari gabungan pengaruh-pengaruh persepsi, kognisi, latar belakang budaya dan unsur-unsur lingkungannya, yang dalam hal ini merupakan pula suatu output perilaku yang telah lalu. Sebaliknya dapat juga terjadi bahwa ke privacyan dan teritorialitasan dapat mempengaruhi kondisi budaya dan lingkungan.
Perubahan di satu bagian sistem ini akan berpengaruh pada seluruh suprasistem. Bila lingkungan fisik berubah, maka pengaruhnya akan terasa dimana-mana, atau jika terdapat perubahan pada budaya, maka akan terasa akibatnya pada suprasistem.
Singkatnya bahwa dengan berubahnya pola penataan lingkungan, ruang, komponen bahan bangunan dan ukuran, akan mengakibatkan berubahnya pola perilaku, termasuk di dalamnya ke privacyan dan ke teritorialitasan seseorang.
         Perilaku manusia pada dasarnya dapat disesuaikan tahap demi tahap secara dinamis terhadap lingkungan fisik maupun sosial di sekitarnya. Hal ini sering disebut sebagai peng-adaptasian. Walaupun manusia dilengkapi dengan daya adaptasi, namun karena masih harus menghadapi masalah rutinitas sehari-hari yang merupakan prioritas pertama, maka pengaruh ini akan sangat terasa serta dapat menimbulkan suatu dampak kejiwaan.
Perilaku dapat pula dijabarkan sebagai proses interaksi antara kepribadian dan lingkungan. Lingkungan mengandung rangsang (stimulus), kemudian akan ditanggapi oleh manusia dalam bentuk “respon”. Respon inilah yang disebut perilaku.

3. PEMBAHASAN TINGKAH LAKU DAN INTERAKSI SOSIAL PENGHUNI PERUMAHAN SAYA SENDIRI DI WILAYAH CIBUBUR JAKARTA TIMUR


3.1 Bentuk dan Pola Jalan
Secara keseluruhan bentuk jaringan jalan yang ada di dalam kompleks perumahan berbentuk pola grid. Fungsi utama dari jaringan jalan ini adalah digunakan penghuni untuk menghubungkan komunikasi antara rumah satu dengan rumah lainnya, antara kelompok satu dengan kelompok lainnya, serta untuk hubungan diantara penghuni baik ke dalam mapun ke luar kompleks perumahan.
Untuk ke luar-masuk kompleks perumahan ada beberapa jalan, yaitu :
a. Jalan utama kompleks, terletak di tengah-tengah lingkungan.
b. Sedangkan jalan yang lain ada beberapa yang dapat berhubungan dengan kampung sekitarnya.
Akibat dari bentuk pola jalan yang ada, tingkah laku penghuni yang tinggal di dalam kompleks perumahan dapat disebutkan sebagai berikut :
a. Para penghuni yang mayoritas sebagai pegawai/ karyawan, setiap harinya baik berangkat maupun pulang kerja, kebanyakan selalu melewati jalan utama yang berada dalam kompleks perumahan. Sehingga jalan utama nampak paling padat frekuensinya, bilamana dibandingkan dengan jalan lain yang ada dalam kompleks perumahan.
b. Secara fisik karena dimensi jalan utama lebih besar, maka lingkungan perumahan seakan terpecah menjadi dua bagian yang terpisah. Akibatnya secara tidak langsung kontak sosial penghuni antara kelompok satu dengan lainnya menjadi terhalang, sehingga kecenderungan untuk mengadakan kontak sosial lebih kuat bersifat ke dalam kelompok masing-masing.
c. Umumnya penghuni yang mempunyai kebudayaan Jawa, mempunyai rasa kekerabatan yang kuat, dengan tetangga dianggab sebagai saudara sendiri. Maka banyak diantara mereka menggunakan jalan-jalan di depan rumahnya untuk bercengkerama/ berbincang-bincang dengan para tetangga di waktu senggang, termasuk jika punya hajat/kerja menggunakan jalan untuk tempat pertemuan, termasuk acara misalnya tirakatan tujuh belasan yang dilaksanakan setahun sekali. Dengan demikian jalan dianggab sebagai tempat kontak sosial bagi para penghuni. Padahal jalan juga digunakan untuk umum, dan kadang-kadang ada kendaraan yang lewat dengan kecepatan tinggi. Akibatnya penghuni terganggu, dan dengan alasan kendaraan yang lewat terlalu cepat, serta untuk keamanan anak-anak, maka jalan-jalan di lingkungan perumahan umumnya dipasang semacam penghambat kendaraan (sabuk jalan) yang dipasang pada tempat-tempat yang dipandang perlu.
d. Karena pola jalan yang berbentuk grid, dan lingkungan perumahan ini berbatasan dengan desa lain. Maka banyak jalan yang dapat berhubungan satu sama lain, antara perumahan dengan lingkungan sekitarnya. Sebetulnya bentuk pola jalan yang ada sudah cukup baik untuk hubungan lalu-lintas, tetapi dalam hal keamanan ternyata tidak menguntungkan. Yaitu banyaknya rumah penghuni kecurian barang-barangnya, hal ini disebabkan masyarakat umum dapat dengan mudah ke luar-masuk melalui jalan-jalan yang ada. Akibatnya ada beberapa yang berhubungan dengan lingkungan sekitar ditutup oleh penghuni perumahan dengan “portal”, dengan alasan untuk keamanan.
e. Secara umum dengan bentuk pola jalan yang ada, kontak sosial penghuni baik antara rumah-ke rumah, antara kelompok, dapat dengan mudah dilakukan.
Khusus untuk kontak sosial/ hubungan antar rumah yang berhadap-hadapan dan sampingnya adalah lebih kuat bilamana dibandingkan dengan yang ada di belakangnya.

4. KESIMPULAN


Dari pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Tingkah laku terhadap pola jalan :
a. Tingkah laku dan interaksi sosial penghuni terhadap bentuk dan pola jalan ada hubungan timbal balik. Di sini kita melihat pola sirkulasi penghuni dalam aktivitas setiap harinya, terutama untuk berangkat dan pulang dari bekerja atau kegiatan lain membentuk suatu sirkulasi, seakan membentuk pola sirkulasi yang selalu terulang kembali.
b. Disamping tersebut di atas, penghuni yang mempunyai rasa kebersamaan dan keakraban yang kuat antar penghuni (terutama kelompok 1 dan 2), sehingga jalan juga digunakan untuk tempat kontak sosial. Dan dengan alasan keamanan terhadap anak-anak, maka ada beberapa jalan diberi penghambat kendaraan agar berjalan pelan-pelan. Serta untuk menjaga keamanan pencurian, ada beberapa jalan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar ditutup dengan portal pintu besi.






Sabtu, 17 November 2012

the definition and culture theory started by experts

The definition and culture theory started by experts

  1. Melville J. Herskovits saw culture as a culture as something that can diwariaskan superorganic because it fell down from generation to generation and still alive even though members of the community continue to change.
  2. Edward B. Tylor saw culture as a complex that includes arts, beliefs, morals, law, customs, skills, habits, or all the things that human beings as members of society.
  3. Ralph Linton argued that culture is the entirety of the knowledge and attitudes and patterns of behavior that is a habit that is owned and inherited by members of a particular community.
  4. Koentjaraningrat formulate culture as a whole system of ideas, actions, people work in order to become a society that belongs to the study.
  5. Soemardjan cello and formulate Soemardi Soelaiman culture as all of the work and copyright society flavors Development of Concept of Culture :

    a. Functionalism
     
  6.  French sociologist Emile Durkheim developed a theory of cultural influence anthropology. Durkheim proposed that religion serves to strengthen social solidarity. An interest in the relationship between function-culture community known as functionalism which later became the main theme in Europe, and Britain in particular, anthropology. Functionalist culture view culture as a collection of integrated parts that work together with communities to keep functioning. British functionalists, such as Bronisław Malinowski and AR Radcliffe-Brown, later known as social anthropologists because they are interested in working within the community. They wrote detailed ethnographic explaining that every aspect of culture and social structure.b. MaterialismThe early 1930s in the United States some anthropologists developed a renewed interest in the material, or economic, ecological and cultural basis. Anthropology emphasizes the importance of discovering how the environment, technology, and how people produce and distribute their needs, such as food, the influence of other cultures. Those who propose busaya material, particularly with regard to aspects that make life and determine the shape of the overall culture.c. Symbolic AnthropologyStarting in the late 1960s, another group of anthropologists began to focus their studies on important symbol in certain cultures. Forms anthropology became known as symbolic or interpretive anthropology. Anthropologists symbolic, such as British anthropologist Victor Turner and the American anthropologist Clifford Geertz, have attempted to explain the special meaning to the people setting objects, behaviors, and emotions. Instead of looking for a universal logic for all cultural, symbolic anthropologists have tried to find the specific internal logic people use to interpret their own culture.d. PostmodernismIn the 1980's and 1990's turn to some of the more radical interpretive anthropologists in cultural perspective, commonly known as postmodernism. Postmodernism mempertanyaan whether the purpose of understanding other cultures as possible. It was developed as a reaction to modernism, which is a scientific and rational approach to understanding the world are found in the majority of ethnography.
    Postmodern Anthropologists suggest that all people construct culture through a process similar to writing, reading, and interpretation of the text. From this view, people continue to argue with each other about the meaning of all aspects of culture, such as the words, rituals, and concepts. People in the United States, for example, have long been arguing over cultural issues such as what is a family, what is the role of women and men in society, and what the function of the federal government should do. Anthropologists are now a lot of studying and writing about the types of questions, even in their own communities  
 Culture FormJ. J Honigmann (in Koenjtaraningrat, 2000) distinguishes the three 'cultural phenomenon': namely: (1) ideas, (2) activities, and (3) artifact, and this was made clear by Koenjtaraningrat who termed the three states of culture:

    
Form of culture as a complex of ideas, ideas, values, norms, rules and so on.
    
Form of culture as a complex pattern of activity and human action in society
    
Being culture as objects of human handiwork.Regarding this cultural form, Elly M.Setiadi et al in Books of Social and Cultural Association (2007:29-30) gives the following explanation:1.  IdeaBeing the menunjukann form an idea of ​​the culture, abstract nature, can not be touched, held or photographed, and its place in the minds of the community where the culture is concerned it alive.Ideal culture has the function of regulating, controlling, and give direction to the actions, behavior and human action in society as a courtesy. Ideal culture can also be called customs.2. behaviorsThe form is called a social system, because it involves the actions and behavior patterns of human beings themselves. The form can be observed, photographed and documented because the system ssosial there are human activities that interact and relate to one another and get along in society. Is concrete in the form of behavior and language.3.  ArtifactsThe form is also called physical culture, which is wholly physical outcome. Its most concrete and tangible, visible and documented. For example: temples, buildings, clothes, fabric, etc. computer.Elements of CultureRegarding the cultural element, in his introduction to Science Anthropology, Koenjtaraningrat, extract prepared from various frameworks scholars Anthropology, stated that there are seven elements of culture that can be found in all nations of the world came to be called the elements of universal culture, antaralain:

    
Language
    
Knowledge Systems
    
Social Organization
    
System Hardware Life and Technology
    
Livelihood Systems
    
Religious Systems
    
Art


Conclusion
Cultural theory has opened to a deeper cultural studies thorough and systematic examination of literary texts. Actually cultural studies in the humanities has been effective since the beginning again. However, prior to this study about usur literary-cultural ubsur only done in certain aspects only. With the emergence of time pascamoden culture has mastered all aspects of human life and the many literary works that touch on budaya.Akibat than this, literary thinkers found the need to demonstrate literary theory-oriented culture budaya.Kajian relationship to global culture, pascamodenisme, post industrialism and ecstasy ekonolobido in line with technological developments and komukkasi edicts massa.teori-cultural study assesses telks literary texts rather than cultural angle and its relationship to material culture (cultural materialist). He also examines the social and cultural power as well as his impressions to humanity. Indeed, the theory of cultural studies, in accordance with the definition of the concept of culture that includes whole life, he was very broad, elektikal, and inter discipline. This theory mengingikan a culture that moves, bertamadun, and according to the price and value of human beings is very flattering sendri.teori texts describing the struggle of the individual or the community in building a perfect civilization. 

Culture theory is the branch of comparative anthropology and semiotics (not to be confused with cultural sociology or cultural studies) that seeks to define the heuristic concept of culture in operational and/or scientific terms.
In the 19th century, "culture" was used by some to refer to a wide array of human activities, and by others as a synonym for "civilization". In the 20th century, anthropologists began theorizing about culture as an object of scientific analysis. Some used it to distinguish human adaptive strategies from the largely instinctive adaptive strategies of animals, including the adaptive strategies of other primates and non-human hominids, whereas others used it to refer to symbolic representations and expressions of human experience, with no direct adaptive value. Both groups understood culture as being definitive of human nature.
According to many theories that have gained wide acceptance among anthropologists, culture exhibits the way that humans interpret their biology and their environment. According to this point of view, culture becomes such an integral part of human existence that it is the human environment, and most cultural change can be attributed to human adaptation to. Moreover, given that culture is seen as the primary adaptive mechanism of humans and takes place much faster than human biological evolution, most cultural change can be viewed as culture adapting to itself.
Although most anthropologists try to define culture in such a way that it separates human beings from other animals, many human traits are similar to those of other animals, particularly the traits of other primates. For example, chimpanzees have big brains, but human brains are bigger. Similarly, bonobos exhibit complex sexual behaviour, but human beings exhibit much more complex sexual behaviours. As such, anthropologists often debate whether human behaviour is different from animal behaviour in degree rather than in kind; they must also find ways to distinguish cultural behaviour from sociological behaviour and psychological behavior.
Acceleration and amplification of these various aspects of culture change have been explored by complexity economist, W. Brian Arthur. In his book, The Nature of Technology, Arthur attempts to articulate a theory of change that considers that existing technologies (or material culture) are combined in unique ways that lead to novel new technologies. Behind that novel combination is a purposeful effort arising in human motivation. This articulation would suggest that we are just beginning to understand what might be required for a more robust theory of culture and culture change, one that brings coherence across many disciplines and reflects an integrating elegance.
 

Minggu, 20 Mei 2012

capung, hewan yang tak terlihat unik tapi memiliki banyak keunikan

Capung merupakan salah satu serangga yang sering kita lihat di tempat-tempat tertentu seperti taman atau sekitar rumah. Seperti pada kupu-kupu dan lebah, capung juga mengalami metamorfosis dalam periode kehidupannya. Bedanya, serangga kupu-kupu mengalami metamorfosis sempurna, sedangkan capung tidak, atau hanya mengalami metamorfosis tidak sempurna. Dimulai dari telur kemudian menjadi larva dan akhirnya menjadi capung dewasa yang dapat terbang indah.

Berikut adalah keunikan-keunikan dari capung:
1. Capung merupakan salah satu serangga purba, mereka sudah ada di bumi sejak 300 juta tahun yang lalu. Fosil capung terbesar yang pernah ditemukan di bumi mempunyai ukuran lebar sayap lebih dari 3 meter.
http://hermawayne.blogspot.com

2. Hewan ini adalah serangga golongan Odonata dengan lebih dari 5000 spesies berbeda yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Di Amerika Serikat saja terdapat lebih dari 400 spesies, apalagi Indonesia yang luas ini pasti lebih banyak spesies capung yang hidup.

3. Kita mungkin sering melihat seekor capung berada di atas permukaan air. Mengapa demikian? Ternyata di permukaan air itulah capung menaruh telur-telurnya yang kemudian akan menetas menjadi larva. Mereka juga sangat awas dengan daerahnya seperti permukaan air tersebut sehingga sering kita jumpai 2 capung yang berkelahi satu sama lain untuk memperebutkan daerah kekuasaan.

4. Walaupun kelihatannya sangat indah, capung sebenarnya adalah serangga yang ganas. Sejak menetas dari telur, mereka adalah karnivora yang suka menyantap hewan lain. Pada saat masih larva, mereka memakan plankton, ikan-ikan kecil, serta larva lain. Di saat sayap mereka mulai berkembang, capung muda memiliki bagian tubuh khusus yang berada di sekitar kepalanya yang berfungsi sebagai tongkat untuk memudahkan menangkap ikan-ikan kecil. Di saat dewasa, capung merupakan predator alami dari nyamuk, sehingga populasi capung yang banyak bisa menjadi pengontrol yang efektif dalam menanggulangi penyebaran nyamuk pada suatu tempat.

5. Hampir seluruh masa hidup capung sebenarnya dihabiskan pada saat mereka larva. Larva capung sendiri hidup kira-kira 3 tahun, setelah itu mereka baru bermetamorfosis menjadi capung dewasa yang bersayap. Capung dewasa ini hanya bertahan hidup beberapa minggu karena tujuan mereka bermetamorfosis tersebut hanya untuk menemukan pasangan agar bisa melangsukan perkawinan dan akhirnya bisa melanjutkan keturunan.
http://hermawayne.blogspot.com

6. Sayap capung bagian depan lebih panjang daripada sayap capung bagian belakang. Bentuk sayap seperti ini membuat capung dapat terbang sangat cepat hingga 50 km/jam dan dapat melakukan berbagai manuver di udara mulai dari bergerak ke samping, belakang sampai menyusuri suatu permukan benda. Kelihaiannya dalam terbang tersebut menobatkan mereka sebagai serangga tercepat yang ada di bumi.
http://hermawayne.blogspot.com

7. Salah satu hal paling menarik yang ada pada capung adalah bentuk matanya. Serangga ini memliki mata yang besar dengan ribuan lensa yang bersegi-segi seperti pada lebah. Dengan mata yang besar dan bersegi-segi tersebut, capung dapat melihat ke segala arah. Hal inilah yang membuat kita agak kesulitan ketika ingin menangkap hewan ini walaupun dari belakangnya sekalipun.



source : terselubung.com